Home » » Asah Kecerdasan Anak dengan Mendongeng

Asah Kecerdasan Anak dengan Mendongeng

Written By C. SUkandi on Kamis, 28 Februari 2013 | 23.02

Anda sebagai orangtua, apakah masih kerap berdongeng untuk si buah hati? Bila tidak, itu sangat disayangkan. Sebab mendongeng bermanfaat besar. Satu di antaranya mengasah kecerdasan anak.

Seorang pakar pendidikan, Lely Tobing Mont, mengatakan dongeng dikenalkan saat anak masih usia dini. Dongeng, katanya, mampu mengeluarkan karakter anak dan kecerdasan jamak. 

“Karakter bukanlah hasil instan. Perlu pembelajaran agar bisa konsisten. Inilah perlunya melatih anak sejak usia dini, misalnya dengan cara mendongeng,” kata Lely dalam temu media ‘Awal Kejutan Cerdasnya’ di Depok, Jawa Barat, akhir pekan lalu.

Melalui dongeng, orangtua merangsang pendengaran anak dengan memberikan informasi ke otaknya. Artinya, mendengarkan dongeng melatih anak menerima berbagai informasi.

Lantaran itu, orangtua harus aktif dan kreatif mengembangkan dongeng atau cerita sesuai dengan usia anak mereka. Ceritanya dikaitkan dengan kemampuan konsentrasi anak. 

Misalnya, anak usia 2 tahun memiliki kemampuan konsentrasi 5 hingga 7 menit. Pilihlah kosakata yang sederhana. Tema ceritanya harus dekat keseharian mereka. Sehingga, mereka lebih mudah memahaminya.

Mendongeng bisa dilakukan kapan saja sesuai keinginan orangtua dan anak, setelah belajar atau menjelang tidur. 

“Biasanya lebih nyaman dilakukan pas mau tidur, karena kondisi sudah sangat tenang. Anak-anak juga nyaman mendengarkan. Harus diceritakan hal-hal yang berisi pendidikan moral, akhlak, budi pekerti atau cerita yang ringan saja. Pokoknya harus kreatif bercerita,” kata Lely.

Agar bisa menjadi pendongeng yang baik untuk anak, menurut Lely, orangtua harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1. Orangtua harus terstimulasi dengan baik. Jika baru pulang bekerja, berikan istirahat untuk diri sendiri sebelum mendongeng untuk anak.
2. Pemilihan tema dongeng harus sesuai dengan usia anak. Untuk anak usia 18 bulan misalnya, akan lebih tertarik dengan gambar/visual dibandingkan huruf.
3. Latih logika anak dengan membuka Tanya jawab. Untuk anak 2-3 tahun misalnya, bisa mendongeng tentang binatang dan dilanjutkan tentang Tanya jawab mengenai binatang oada dongeng tersebut.

Tjhin Wiguna, seorang spesialis psikiatri anak dan remaja FKUI/RSCM, menambahkan pendidikan anak usia dini paling baik untuk menanamkan karakter baik. Di usia itu, orangtua sebaiknya mengembangkan perlekatan (bonding). 

“Perlekatan akan aman jika orangtua memahami sinyal yang dikirimkan anak. Esensi anak 0-3 tahun adalah main sambil belajar. Jika anak merasa aman, itu akan berpengaruh pada aspek kesehatan si anak. Saluran cerna lebih sehat, nafsu makan membaik, juga meningkatnya sistem kekebalan tubuh,” ujar Tjhin.

Di masa itu, katanya, perkembangan otak anak berlangsung pesat pada usia tiga tahun pertama. Orangtua harus menyiapkan anak usia pra-sekolah mencapai kematangan guna mengikuti pendidikan dasar.
Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. . - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger